Fokus Kesinambungan Program Desa

OASENUSANTARA, PONOROGO -
Pada realitasnya masyarakat terlena oleh "kekuatan finansial", terwujud masyarakat menilai calon pemimpin cukup dengan estimasi finansialnya, semakin kaya akan berbanding lurus dengan potensi kemenangannya. Sudut pandang itu merupakan cermin lemahnya masyarakat didalam orientasi pembangunan ekonomi kerakyatan.

Masyarakat seakan kurang percaya kepada para pemimpin didalam mewujudkan janji politiknya didalam memenuhi kebutuhan mereka melalui program pemerintah, akirnya tersimpulkan dari pada tidak dapat apa-apa, mereka cenderung terobsesi dengan deal finansial.

Kepentingan instan inilah yang akirnya menjadi momok pemimpin, para pemimpin lebih cenderung menggunakan kekuasaannya untuk menumpuk "pundi-pundi emas" agar mampu melanggengkan kekuasaanya. Para kandidat pun harus berhitung matematis hanya untuk mencalonkan diri. Dalam hal inilah program-program pemberdayaan semi dikesampingkan oleh pemimpin sehingga ekonomi kerakyatan jauh dari kata ideal apalagi menjadi idealisme.

Masyarakat harus diberi contoh nyata "ing ngarso sung tulodho", bagaimana seorang pemimpin berani menginspirasi dan mengaktualisasi program pemberdayaan yang hasilnya dirasakan langsung. Ini tentunya akan sulit, karena masyarakat sudah terdoktin alam bawah sadarnya untuk deal finansial, namun tidak berarti mustahil untuk dilakukan.

Perubahan paradigma masyarakat kembali ke orientsi pemberdayaan harus digarap serius, karena merupakan pondasi dalam menuntaskan pembangunan ekonomi kerakyatan. Tokoh sentral desa adalah simbol dan simpul untuk meningkatkan perubahan tersebut. Momentum yang tepat bagi Kepala Desa yang baru terlantik untuk meningkatkan gerakan pemberdayaan tersebut didalam RPJMDesa.

Perlunya program-program pemberdayaan yang terfokus dan berkesinambungan dari tahun ke tahun akan mempertinggi keberhasilan. Kegiatan yang berulang dari tahun ke tahun akan membuat monotonnya sebuah rencana pembangunan, misal setiap tahun melakukan study banding.

Desain harus dibuat terfokus berkesinambungan jadi target 6 tahun RPJMDesa akan jelas. Kita ambil contoh misal tahun pertama mengadakan study banding, dalam hal ini study banding harus ke tempat yang potensi desanya sesuai, bukan "manut grubyuk", tahun kedua penyiapan Sumber Daya Manusia  (SDM) akan replika program hasil study banding, tahun ketiga pelaksanaan aplikatif kegiatan, tahun keempat peningkatan kapasitas pengurus dalam evaluasi program, tahun kelima pelatihan pengembangan ekonomi kreatif, tahun keenam penambahan modal dan seterusnya.

Pentingnya desain target program yang fokus berkesinambungan itulah yang harus diapliksikan dalam RPJMDesa. "Empower The Helpless" memberdayakan ketidakberdayaan masyarakat didalam pemberdayaan dalam menuntaskan ekonomi kerakyatan. (*)


Komentar