Sirnanya Ideologi Komunitas

OASENUSANTARA, PONOROGO - PERHELATAN politik Ponorogo tahun 2015 masih menyisakan kotak-kotak pada sebagian Elite Komunitas, mereka masih berkutat akan persepsi kebenaran masing-masing dengan menghiraukan irisan orientasi.

Kesadaran kebersamaan dalam garis orientasi memudar dan melenceng jauh dari rel komunitas, semua teguh berpegang pada tongkat sendiri dengan mengesampingkan kekuatan saling melengkapi.

Yang kuat semakin menjauh, yang lemah semakin memisah, darah dan idealisme yang sama bukan lagi menjadi irisan gerakan. Semua terkontrak semu dalam kepentingan orientasi berbasis super individu dan super  sektoral.

Lemahnya komunitas tak pelak lagi terjerembab semakin dalam, apalagi elemen komunitas berjalan sendiri-sendiri tanpa peduli tongkat komando komunitas. Hanya kekuatan sihir birokrasi yang masih eksis dalam pemenuhan secangkir kopi.

Pemegang birokrasi adalah bagian dari komunitas bukannya komunitas bagian dari birokrasi. Sekuatnya birokrasi pasti ada titik lemahnya, Selemahnya komunitas pasti ada titik kuatnya dalam roda perjalanan peradaban politik.

Tanpa memandang kuat atau lemah, tentunya bersatu dan menyatukan diri dalam sebuah orientasi komunitas kembali adalah hal yang mutlak bagi jati diri seorang kader sejati. Kesadaran untuk berjabat hati harus muncul iklas tanpa gincu biru atau hijau demi bangkitnya kekuatan masa yang akan datang, merasa terkuat atau terlemah hanya akan membawa pada kehancuran sebuah komunitas.

Kita ditantang untuk menaklukan efek desain pergeseran lempengan, bukannya menciptakan pergeseran itu sendiri.

Generasi muda adalah solusi dan harapan orangtua untuk meneruskan amanah komunitas menjaga negeri, bukan Menciderai. "Sak galak-galake sardulo gak kolu mangan anake".(*)


Komentar