PILKADES DIPERSIMPANGAN JALAN

Pilkades di persimpangan Jalan

OASE NUSANTARA,- Menelaah Pemilihan Kepala Desa, yang merupakan pemilihan terekstrim dengan analisa terkomplek untuk memetakan kawan dan lawan. Untuk menguraikan "seorang" pemilih membutuhkan riwayat panjang kehidupannya, siapa saudaranya, siapa musuhnya, siapa temannya, apakah dia sudah taruhan, berapa besar taruhannya dan masih banyak lagi. Dalam hal ini kematangan sejarah dan analisa sosial sangat dibutuhkan untuk memperoleh akurasi yang tinggi.

Ketika hasil analisa, "seorang" adalah lawan, strategi selanjutnya adalah pendekatan untuk menjadikan kawan. Bisa dengan pendekatan, doktrin, provokasi, intimidasi bahkah persekusi. Nilai-nilai demokrasi dan hak memilih yang dilindungi oleh hukum terberangus bahkan bisa memecah-belah sendi masyarakat.

Manakala hasil analisa "seorang" menjadi kawan atau telah menjadi kawan, mereka akan diberi uang saku pemilih "money politik". Perlu dipahami dalam kondisi ini mempercayai seseorang sangatlah sulit, manusia seakan kehilangan kepercayaan kepada orang lain. "Seorang" itu masih harus digiring semi dipaksa untuk ikut "arisan ikatan", yaitu mengumpulkan uang untuk taruhan. Ini strategi membangun kesolidan pilihan. Sebuah budaya pendidikan taruhan yang turun-menurun dari nenek moyang, entah sampai kapan akan berhenti.

Fase selanjutnya pengurungan, sekelompok pemilih dengan pilihan yang sama dikumpulkan disebuah rumah setiap malam, dengan tujuan agar tidak dipengarui oleh lawannya. Namun cara ini sekarang jarang dilakukan, sebagai gantinya para kader-kader muda menjaga setiap sudut jalan, menjaga agar tidak ada orang luar masuk ke wilayahnya atau orang dalam (lawan) tidak keluar untuk mempengaruhi kawannya, kebebasan manusia sirna demi sebuah ambisi kemenangan.

Pengamanan selanjutnya dalam pemberangkatan menggunakan hak pilih, para pemilih dikawal sampai di Tempat Pemungutan Suara. Bahkan dengan perkembangan era digital pemilih muda yang dicurigai masih harus memfoto coblosanya sebagai bukti pilihan mereka. Kerahasiaan pilihan hanya sebuah kalimat dalam peraturan, hukum rimba menjadi ukuran mayoritas elite desa.

Pendidikan demokrasi masih sangat jauh dari ruh demokrasi, bahkan menciderai nilai-nilai keagamaan. Orientasi Elite Desa cenderung ke "bursa taruhan" bukan berorientasi kepada program para Calon Kepala Desa. Nalar kritis masyarakat dalam pembangunan desa harus dibangun kembali, sehingga  program inovasi pembangunan desa lebih tergarap, sehingga meningkatkan hajat hidup masyarakat ".(*)

Komentar

Posting Komentar